Jangan Tunda

Periksa Gigi

Ketika rasa sakit muncul, ini berarti ada masalah infeksi pada gigi.

Bakteri di gigi bisa lari ke jantung. Problem yang awalnya terlihat kecil, tapi karena tidak langsung ditangani, maka kerusakannya lebih kompleks. "Daripada menunda pengobatan, lebih baik rutin periksa, seperti enam bulan sekali. Ada masalah, langsung tangani," kata dokter yang juga dosen di Universitas Trisakti tersebut.

 

Perawatan harian yang perlu dilakukan adalah membersihkan gigi dua hari sekali setelah sarapan dan sebelum tidur. Pembersihan berkala ke layanan kesehatan juga akan membantu menjaga kesehatan gigi.

 

Namun faktanya, kesadaran masyarakat untuk melakukan kebiasaan baik tersebut masih rendah. Alhasil, permasalahan gigi dan mulut tidak terelakkan bahkan terekskalasi seiring waktu. Umumnya, masyarakat Indonesia sudah kehilangan 11 giginya pada usia 65 tahun

 

Sakit gigi yang tidak segera ditangani bisa mengarah pada penyakit yang serius. Karena itu, saat mengalami masalah gigi, segeralah mencari perawatan dan tindakan. Lalu, kalau harus dilakukan pencabutan, pasang gigi palsu untuk menutup ompong.

Cara Tepat Menyikat Gigi

Daripada menunda pengobatan, lebih baik rutin periksa, seperti enam bulan sekali.

Masalah gigi bisa tampak sederhana pada awalnya. Akan tetapi, saat masalah awal tersebut tidak segera ditangani, maka dampaknya bisa sampai komplikasi. Drg Andy Wirahadikusumah SpPros mengatakan, saat mengalami sakit, misalnya, penderita tidak langsung mencari tindakan perawatan. Infeksi pun bisa meluas.

 

Infeksi tersebut bisa bersifat akut maupun kronis. Dengan adanya rasa sakit, tubuh memberi sinyal bahwa gigi sudah ada masalah infeksi. "Jadi harus segera mencari pengobatan, jika tidak, tentu infeksi bisa meluas, membesar, dari yang tadinya abses, jangka panjangnya bisa kista," kata drg Andy dalam acara "Kupas Tuntas Pentingnya Merawat Gigi dan Mulut" di Pepsodent Dental Expert Center, Jakarta.

 

Jika awalnya hanya cukup satu gigi yang timbul kista, itu bisa menjalar ke gigi di sekitarnya. Nantinya, prosedur bedah tentu akan mengambil gigi yang bermasalah beserta tulangnya. Jadi, masalahnya semakin kompleks karena semua operasi harus dilakukan. Infeksi gigi  juga dapat menjalar ke organ lainnya, salah satunya jantung. Karena gigi dan pembuluh darah saling berkesinambungan.

FREEPIK

Menyikat gigi setiap pagi dan malam hari serta berkunjung ke dokter gigi setidaknya enam bulan sekali merupakan dua rutinitas yang sama pentingnya. Hal itu menjadi bagian dalam upaya memelihara kesehatan gigi dan mulut secara menyeluruh.

 

Namun apakah selama ini rutinitas menyikat gigi yang dijalankan sudah tepat? Drg Ratu Mirah Afifah, GCClinDent MDSc, Head of Professional Marketing Beauty and Personal Care Unilever Indonesia mengingatkan kegiatan menyikat gigi harus menjangkau empat bagian rongga mulut. Biasanya orang menyikat gigi 30 detik sampai satu menit. “Padahal banyak sekali bagian dari rongga mulut itu dibagi empat, kalau ditotal dua menit waktu optimal menyikat semua permukaan gigi,” kata Mirah.

 

Selain gigi, orang juga kerap melupakan membersihkan lidah. Padahal penting untuk membersihkannya, mengingat banyak tonjolan yang juga merupakan tempat di mana bakteri berkumpul. “Jadi yang penting permukaan gigi dan lidah,” jelas Mirah.

 

Menyikat gigi yang dianjurkan adalah setiap pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Setelah sarapan, jelas  gigi sudah kotor dan perlu dibersihkan.

 

Sedangkan pentingnya membersihkan gigi sebelum tidur lantaran risiko masalah nantinya. Ketika tidur, aliran dari ludah sangat sedikit, sementara ludah punya kemampuan membunuh bakteri.

 

Selagi tidur, mulut dalam keadaan kotor, sedangkan bakteri tidak pernah tidur. Bakteri akan melakukan fermentasi sisa-sisa makanan yang ada menjadi asam, melarutkan makanan sehingga membuat gigi jadi berlubang.

 

Dalam mulut, ada banyak sekali bakteri bahkan bisa masuk ke bagian tubuh yang lain. Misalnya, berdasar penelitian, ibu hamil yang mengalami gigi abses dan berlubang juga dapat memicu kelahiran bayi prematur bahkan dengan berat badan rendah.  ‘’Jadi banyak kasus yang tampakny sepele. Bakteri itu sangat kecil, semntara aliran darah terus menerus mengalir. Karena itulah, harus betul-betul memperhatikan kesehatan gigi setiap harinya,’’ ujar Mirah.

cedric fauntleroy/pexels

nadezhda moryak/pexels

Ketika gigi terpaksa dicabut, maka kita disarankan agar langsung menggantinya dengan gigi palsu. Menurut drg Andy Wirahadikusumah SpPros, jika dibiarkan ompong, risikonya gigi cenderung bergerak mengisi ruang yang kosong.

 

Saat sudah pencabutan, ada ruang kosong, di mana gigi depan atau belakang dapat bergerak mengisi kekosongan tersebut. Misalnya, gigi bawah dicabut, maka gigi atas cenderung bergerak ke bawah. Gigi atas ompong, gigi bawah ke atas mengisi yang kosong. Jika sudah dipasangkan gigi palsu, maka tidak ada lagi ruang kosong tersebut. Ruang kosong dapat memengaruhi cara menempelnya makanan di sekitar gigi.

 

Makanan lebih mudah menempel di sekitar gigi tersebut. Apabila bergesernya gigi secara lurus, tidak masalah. Tetapi jika miring dan memutar, makanan pun lebih gampang menempel, ditambah kebersihan mulut kurang dijaga, maka masalah gigi berlubang dan gusi tak akan terelakkan lagi.

 

Sakit gigi juga bisa menjalar ke kepala, karena masih berhubungan dengan saraf gigi. Mengingat gigi juga masih berada pada area wajah, maka berhubungan pula dengan telinga dan kepala sehingga sangat memungkinkan keluhan sakit gigi akan menjalar jadi sakit kepala bahkan bisa hebat.

 

Perawatan gigi palsu sebenarnya relatif sama dengan gigi asli. Untuk jenis permanen, bisa dibersihkan sebagaimana gigi asli. Bagaimana dengan gigi palsu yang bisa dilepas? Untuk jenis lepasan, gigi palsu perlu direndam dan dibersihkan supaya tidak ada makanan yang terjebak di area gigi. Awet atau tidaknya gigi palsu bergantung pada kepandaian pasien menjaga kebersihannya.

 

Selain itu, apakah gigi memang dipakai atau malah justru jarang-jarang digunakan. Terlebih jika gigi palsu sudah kotor, berjamur, maka perlu dibuatkan yang baru.

 

Kontrol ke layanan kesehatan gigi tetap penting agar bisa mendapat pengecekan maupun edukasi yang perlu didapatkan. Tidak ada pantangan untuk pemilik gigi palsu. Hanya, makanan yang bisa dikonsumsi bisa bertahap dari lunak, agak keras, hingga keras sampai gigi beradaptasi selayaknya gigi asli

Mengajak anak untuk rutin periksa gigi tentu bukan hal mudah. Dokter gigi dari Klinik Rata drg Gita Caesaria mengingatkan para orang tua untuk tidak mengajak anak ke dokter gigi pertama kali saat sedang sakit, agar dia tak takut pergi ke dokter gigi di kemudian hari.

 

"Jangan ajak anak ke dokter gigi ketika dia lagi sakit, karena memori yang akan diingat ya sakit. Kita sebagai dokter dan suster nantinya agak susah, karena baru dengar alatnya saja dia sudah gelisah," kata Gita.

 

Oleh karena itu, Gita menyarankan bahwa pertama kali yang harus dilakukan adalah mengajak anak ke dokter gigi setiap orang tua atau anggota keluarga yang lain melakukan perawatan gigi. Selain itu, anak juga perlu dikenalkan dengan alat-alat yang ada di sana.

 

"Harus dicontohin dulu. Setiap orang tuanya atau keluarganya ke dokter gigi, dia harus ikut. Pertama, dikenalkan dulu dengan dokternya, dengan alat-alatnya, dicontohin kalau perawatan gigi tuh duduknya di mana," ujar Gita.

 

Setelah anak mengenali dokter dan alat-alatnya, lanjut Gita, orang tua dapat mencoba mengajak anak melakukan perawatan pencegahan yang minim rasa sakit seperti pembersihan atau penambalan gigi. Setelah itu, jika dia memang sedang sakit, barulah ajak melakukan perawatan penyembuhan. "Banyak banget yang skip hal ini dan langsung ke penyembuhan. Karena memang perlu pendekatan dan mesti dikenali juga ke alat-alatnya," lanjut Gita.

 

Gita mengatakan, anak sudah dapat melakukan perawatan ke dokter gigi sejak usia satu atau dua tahun, bahkan ketika gigi pertamanya baru tumbuh. Selain untuk melakukan pembersihan, penting juga untuk membentuk imun seperti dengan memberikan tropical fluoride agar gigi susunya tetap terlindungi.

 

Menurut dia, anak yang gigi susunya terlindungi tentu akan lebih kuat dibanding dengan anak yang jarang bahkan tidak pernah ke dokter gigi, meskipun memiliki kebiasaan yang sama seperti hobi makan makanan manis dan mengedot sambil tidur.

 

"Jadi kalau misalnya giginya berlubang itu tidak akan parah karena gigi susunya kuat. Dengan kebiasaan yang sama, tapi kalau dia sudah diberikan seperti tropical fluoride, rusak (gigi)nya ya enggak akan serusak dibandingkan gigi anak yang belum pernah ke dokter gigi," kata Gita.

 

freepik

Agar Anak Senang ke Dokter Gigi

Jika Memakai Gigi Palsu

top

back